PENGENALAN DESA PRONGIL

 

 Desa Prongil 

Terbentuknya Desa Prongil yang dulunya sebutannya Parongil pada tahun 2005 mekarnya desa ini menjadi satu desa dari Silima Kuta atau Santar yang kemudian  terjadilah pemekaran menjadi desa Prongil karena dulunya Prongil teridiri dari dua dusun prongil jehe dan prongil julu. Akan tetapi sekarang ini sudah mekar menjadi empat dusun, yaitu: Prongil Julu, Prongil Jehe, Kuta Baru, Kalomata. Marga sinamo merupakan marga yang membuka Prongil ini menjadi sebuah pemukiman, marga Sinamo merupakan pendatang dari Sidikalang, yang berasal dari si Cike-cike lari Ke  Santar Silima Kuta, marga sinamo juga memiliki Lebuh Pencinaren maksud dari Lebuh Pencinaren nenek moyang dari Marga Sinamo banyak memiliki emas yang di Cinar dalam bahasa Indonesia yaitu dijemur.

Dulunya, tanah/desa prongil ini milik Marga Solin, akan tetapi Marga Solin memberikan tanah ke marga Sinamo yaitu Prongil karena sudah menikah dengan Boru Solin di dalam Bahasa Pakpak Rading-rading Beru. Marga Solin ini merupakan marga yang merupakan salah satu dari tiga marga yang dulunya mendiami terlebih dahulu daerah Sim-sim selain Marga Solin, ada juga marga Padang, Berutu.  Marga Solin ini juga banyak memeberikan tanah kepada marga selain marga Sinamo, ada juga marga Manik, Banurea karena marga Solin memiliki hak atas tanah.

 Tradisi yang masih dilaksanakan masyarakat Pakpak yang dianggap mujarab yaitu tradisi memakan man Pelleng atau Memakan Pelleng yang merupakan makanan Khas dari Pakpak. Setiap masyarakat Pakpak yang mau melakukan sesuatu atau berangkat ke perantauan harus memakan Pelleng karena makna yang dari terkandung dalam Pelleng itu sendiri yaitu Doa dari semua keluarga untuk anggota keluarga tersebut melakukan perjalan menuju perantauan, dulunya Man Pelleng  juga dilaksankan sebelum berangkat perang , makna lain dari pelleng yaitu untuk mempersatukan jiwa dan raga semua anggota keluarga tersebut sehingg kemana pun salah satu dari anggota keluarga tersebut akan tetap satu dengan yang dikampung maupun di perantuan.

                 Adat Pernikahan dan Kematian

Adat Pernikahan yang dilakukan atau dilaksanakan di desa Prongil sendiri pada saat ini terkikis oleh zaman. Pada tahun 2005 keatas sudah terjadinya percampuran adat pernikahan dari pedatang baik Toba dan lainnya. Pada dulunya pakian adat masih dipakai lengkap seperti Bura-bura, Topi, Sarung Dabahitak. Motif yang menarik juga dari masyarakat Pakpak yaitu motif Cicak yang menandakan sebagai penangkal hal Buruk yang terjadinya.

Upacara kematian yang masih dilaksanakan di desa Prongil yaitu masih adat Pakpak yaitu jika orang yang sudah meninggal dan utang adat belum di bayar harus dibayar terlebih dahulu agar dilaksanakan prosesi penguburan maupun sekedar atau singkat yaitu di atas jenazah orang yang meninggal dari seberang ke sebrang yaitu berupa Mandar atau Kain Beserta uang yang di dalamnya sesuai dengan nominal yang sudah dibicarakan atau kesepakatan da nada tujuh kain yang harus dibayar kepada Parboru. 

Benda Peninggalan di Desa Prongil (Mejan)

Mejan  (peralatan dapur) merupakan benda peninggalan di Desa Prongil yang terbuat dari batu, mejan ini sudah ada sekitar ratusan tahun lamanya. mejan tersebut memiliki fungsi sebagai penjaga desa Prongil , jika ada serangan musuh dari luar atau orang yang ingin melakukan hal-hal jahat maupun pikiran jahat pada desa Prongil maka mejan tersebut  goyang.  Hal tersebut membuat musuh kesusahan/tidak pernah bisa memasuki desa prongil. Akan tetapi, sekarang ini Mejan (Peralatan dapur) sudah banyak yang pecah.  Pembuatan mejan tersebut dibuat oleh orang-orang jaman dulu, dimana pada pembuatan mejan ada mantra yang diucapkan/dibuat pada saat pembuatan mejan.

Agama/Kepercayaan Masyarakat di Desa Prongil

Di Desa Prongil, dahulu masyarakat belum mengenal Agama, ada beberapa masyarakat masih mempercayai alam seperti  Air Terjun karena dipercayai pada air terjun tersebut banyak begu (hantu). . Selain air terjun yang menjadi tempat pemujaan masyarakat desa prongil,  dahulunya Rubi Haji juga merupakan  tempat pemujaan atau tempat adu kekuatan para hantu dengan tanda angin puting beliung. Akan tetapi sekarang ini masyarakat Pakpak khususnya di Desa Prongil sudah mengenal/menganut Agama seperti Agama Kristen Protestan, Islam, dan lain sebagainya.

             Air Terjun di Desa Prongil

Di Desa Prongil terdapat air terjun yang menjadi salah satu Objek Wisata yang dapat dinikmati oleh para pengunjung maupun masyarakat desa itu sendiri. Dulu nya ,Nama dari air terjun itu sendiri Laembilulu, dimana Lae merupakan bahasa Pakpak yang artinya air. Akan tetapi sekarang ini nama air terjun sudah diganti menjadi air terjun simbilulu, adapun pergantian nama air terjun ini dikarenakan para wisata yang memberi nama, atau menyebutnya dengan simbilulu. Pada air terjun di desa Prongil ini dahulu ada Kepiting sebesar tampi, dan Ular besar yang berada di air terjun tersebut. jika suara air terjun berbeda dari suara biasanya itu menandakan bahwa kepiting tersebut keluar.

Juga, dahulu jika hujan tidak turun maka masyarakat meneban 1 pohon maka hujan turun. Akan tetapi, sekarang ini masyarakat sudah mengenal/mempercayai agama, sehingga sekarang ini sudah tidak menyembah/mempercayai air terjun, fisik dan di sekitaran air terjun dahulu dengan sekarang sudah berbeda, jika dahulu di daerah permukaan air terjun terdapat pohon enau (aren) dan terdapat tumbuhan raso (semacam daun pandan). Namun sekarang, pohon enau (aren) tersebut sudah tidak ada lagi, karena sudah dibawa arus air terjun, sehingga di permukaan air terjun sekarang ini sudah digantikan dengan batu-batu.

Kearifan Lokal di Desa Prongil ( Sistem Pertanian)

Menanda tahun merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat di desa prongil, adapun menanda tahun ini masyarakat menanam padi (manugal) yang biasanya dilakukan pada bulan 6 atau 7 mulai jam 7-10 pagi saja, tidak bisa lewat dari jam 10 pagi. Setelah dilakukannya menanam padi maka tidak ada lagi masyarakat yang pergi ke ladang , masyarakat pakpak khususnya di desa prongil menyebutnya dengan rebu  Ini merupakan tradisi marga sinamo di desa prongil. Pada setiap marga berbeda pula tradisi yang dilakukan pada setiap marga lainnya. Selain manugal, dan rebu, dahulu ada juga tradisi aron (bergotong royong) pada ladang setiap masyarakat, akan tetapi sekarang ini sudah tidak ada lagi aron (bergotong royong) dikarenakan sudah digantikan dengan upah berupa uang.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monografi Dan Struktur Pemerintahan Desa